Selasa, 02 September 2014

Doa bukanlah "Lampu Aladdin"

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi dari doa adalah “permohonan (harapan, permintaan, pujian) kepada Tuhan”. Perlu kita kaji lebih lanjut apa yang dimaksud dengan “permohonan”, “Harapan”, “Permintaan, dan “Pujian”. Kali ini saya akan mencoba mengurutkan definisi doa dimulai dari penghormatan yang paling rendah ke penghormatan yang paling tinggi.



1. Permintaan.

Doa pada definisi permintaan adalah doa yang penghormatannya paling rendah karena permintaan biasanya dilakukan dari atas ke bawah, bukan dari bawah ke atas. Maksudnya, Permintaan dalam artian “perintah” biasanya dilakukan dari orang yang jabatannya lebih tinggi ke orang yang jabatannya lebih rendah. Doa dalam hal ini adalah doa yang sekiranya kurang hormat kepada Tuhan karena menganggap Tuhan sebagai seseorang yang mungkin jabatannya dibawah kita. Ada sebuah dalil yang bunyinya seperti ini “berdoalah kamu kepadaku, niscaya kuperkenankan permintaan kamu itu” (Al-mu’min : 60). Dalam hal ini, justru Tuhan malah menyuruh umatnya meminta kepadanya. Intinya, bahkan doa yang sekiranya penghormatan paling rendah pada Tuhan pun akan diterima dan disenangi Tuhan.



2. Harapan

Harapan adalah “keinginan supaya menjadi kenyataan” (KBBI). Saya kerap kali dianjurkan oleh orangtua saya agar berharap kepada Allah SWT untuk memberikan berkah dan hidayahnya. Berharap kepada Tuhan artinya kita mengharapkan sesuatu yang baik terjadi pada kita. Berharap menurut saya terdiri dari 60% permohonan dan 40% permintaan. Jadi, dalam harapan orang tidak meminta langsung hanya saja orang berharap mendapatkan yang terbaik yang terdiri dari persentase 60% permohonan dan 40% permintaan.

 

3. Permohonan
 
Doa yang paling sempurna adalah memohon. Saya pernah ke sebuah Gereja Protestan dan saya sangat tercerahkan ketika mendengar pastur nya berdoa. Cara berdoanya simple tapi tidak pernah terpikirkan. Jadi awal-awal sang pastur berdoa dengan cara merendahkan diri di hadapan Tuhan menyatakan bahwa ia hanyalah seorang hamba yang penuh 
kekurangan dan sangat membutuhkan bantuan dari Tuhan.

Selanjutnya, ia memuji-muji dan mengagung-agungkan Tuhan setelah ia merendahkan dirinya didepan Tuhan. Lalu yang terakhir ia memohon apa sekiranya yang ia inginkan dan sekiranya terbaik bagi Tuhan itu sendiri. Ini adalah terobosan Doa yang tidak pernah sempat saya pikirkan!!! bodohnya lagi, saya baru sadar kalau ternyata cara berdoa ini sudah ada di Al-Quran yakni “berdo’alah kepada Tuhan dengan merendahkan diri & dengan suara hati yg lembut tersembunyi” (Al-A’raf : 55) dan “Dan berdo’alah kepada Tuhan dengan mengikhlaskan ‘ibadat hanya untuknya” (Al-A’raf : 29).
 
Sekarang kembali ke topik utama sesuai judul. menurut para sufi, orang yang paling merasa banyak dosa adalah orang yang paling shaleh hingga pada akhirnya ia akan tetap berdoa padaNya sedangkan orang yang merasa paling shaleh adalah orang yang paling banyak dosanya.
 
Doa bukanlah lampu “aladdin” yang pekerjaannya hanyalah mengabulkan permintaan. Sungguh, hanya orang awam yang menganggap doa sebagai demikian. Doa adalah sebuah cara berinteraksi dengan Tuhan. Interaksi tidak harus a bicara pada b lalu b membalas a. Interaksi juga bisa terjadi bila a bicara pada b dan b mendengarkannya.
 
Bila ada seseorang yang berdoa “Ya Tuhan, hari ini sangat mendung, kumohon jangan dulu turunkan hujannya karena jemuran saya belum kering” dan ternyata pada saat itu juga hujan turun. Apakah dengan demikian maka kita bisa membuktikan tidak adanya Tuhan? Kalau memang anda pikir demikian ya tidak apa-apa. Namun bagi saya yang beragama, adalah kewajiban menganggap Tuhan itu maha besar dan bukan pembantu kita yang kerjaannya hanyalah mengabulkan apa yang kita inginkan.

Kita memohon dan ternyata tidak dikabulkan atau mungkinkah belum dikabulkan? Mari kita coba mundur ke beberapa ribu tahun yang lalu. Nabi Ibrahim memohon dengan khusyu agar segera dikaruniakan seorang anak. Butuh berapa Tahun doa tersebut dikabulkan? Beliau baru dikaruniakan anak beberapa puluh Tahun kemudian. Bayangkan, seorang “Bapaknya para nabi” ketika berdoa saja tidak langsung dikabulkan, apalagi kita?
Dalam hal berdoa, adakalanya Tuhan bukan “Tidak mengabulkan doa” melainkan “menggantinya”.

Analoginya, andai kita meminta dibelikan motor kepada orangtua pasti orang tua akan berpikir ulang untuk memberikannya kepada kita apakah barang tersebut akan bermanfaat ataukah bila diganti dengan yang lain maka akan lebih bermanfaat? Lalu selanjutnya ternyata orangtua membelikan komputer. Orangtua bukan “tidak mengabulkan” doa kita, ia hanya menggantikannya kepada sesuatu yang sekiranya lebih bermanfaat untuk kita pakai.
Tuhan memang maha pemberi tapi dari ke-maha-annya itu, Tuhan juga maha adil. 

Bagaimana bila seorang manusia yang malas berdoa “Ya Tuhan, aku ingin masuk universitas X” sementara itu seorang manusia rajin juga berdoa demikian. Apakah Tuhan akan mengabulkan keduanya? Adilkah bila hal itu terjadi?
 
Ada hal lucu pada film “Bruce Almighty” ketika ia (ceritanya menjadi Tuhan) menjawab setiap doa manusia dengan jawaban “ya” hingga pada akhirnya terjadi kerusuhan dimana mana. Ini film menarik karena ada nilai moral yang disampaikan melalui cerita film ini. Tapi juga ada hal yang mendoktrin saya menganggap bahwa Tuhan itu wajahnya seperti morgan freeman :| *abaikan*
 
Apabila si X berdoa agar diturunkan hujan sedangkan si Y berdoa agar tidak diturunkan hujan, kira-kira mana yang akan dikabulkan Tuhan? Wallahualam, disinilah letak kehebatan pendoa dan doanya. Pendoa yang sekiranya belum dikabulkan doanya maka ia harus belajar sabar sedangkan pendoa yang sekiranya dikabulkan doanya, maka ia harus belajar bersyukur.
 
Tuhan maha kuasa, tapi dari kekuasannya, selama alam semesta masih seimbang oleh hukum alamnya, maka Tuhan tidak akan turun tangan langsung mengutak atik semesta seperti mungkin kisah-kisah mukjizat pada zaman dulu.
 
Kesimpulan, Tuhan bukanlah pembantu kita yang kerjannya hanya mengabulkan doa dan kita pun harus memahami hakikat dari doa. Sekian dari saya. Please, correct me if i’m wrong. Need your critics here :)
 
Contoh doa yang baik menurut para sufi
“Ya Allah, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Tahu dan Maha Memberi Ilmu”









http://ahusm.wordpress.com/