Tidak masalah agama apapun yang dia anut dan tidak masalah pula apabila ia lebih nyaman untuk tidak beragama dan tidak mempercayai Tuhan karena mungkin pandangannya terhadap orang orang yang mempercayai Tuhan dan beragama itu sangat buruk akibat perilaku orang orang yang mempercayai Tuhan.
Disini saya akan lebih menekankan untuk menjelaskan tentang orang yang beragama karena pada dasarnya orang yang tidak beragama berasal dari refleksi perilaku orang beragama. Saya sebagai Gusdurians merasa instropeksi diri lebih baik daripada menyalahkan orang lain.
Jadi, saya menganggap bahwa orang yang membenci agama saya kemungkinan besar karena mendapat pandangan buruk yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku beragama Islam namun gagal menerapkan akhlaknya sendiri.
Pertama, kesalahan berpikir umat dalam menerapkan maksud “surga”. Surga adalah sebuah tempat yang diartikan sebagai sebuah tempat “kedamaian, dan kebahagian” yang abadi. Tentu saja tempat ini adalah tempat yang sangat diinginkan oleh para pemeluk agama karena tempat ini sangat menjanjikan.
Banyak orang yang salah mempersepsikan surga bahwa surga hanya berada pada akhirat, namun pada dasarnya, manusia juga bisa menciptakan surga pada dunia walau mungkin tidak se-menjanjikan dan se-sempurna surga yang dijanjikan oleh Tuhan.
Sikap saling bertoleransi, kasih sayang, tolong menolong, dan kebaikan adalah surga pada dunia itu sendiri. Saya kerap kali melihat Atheis atau Deis yang kerap kali memojokan agama saya. Saya wajar saja karena sebenarnya keluhan mereka berasal dari ucapan ceramah seorang ustad (pinggiran) yang menyatakan “darah kafir halal untuk dibunuh, Jihad”.
Ucapan seseorang, itu bisa menjadi influence kepada setiap orang yang memiliki satu ideologi terhadap seseorang itu.
Kedua, orang sering kali dibutakan oleh kalimat zuhud atau tidak mencintai material lebih dari akhirat. Orang banyak yang salah persepsi hingga pada akhirnya ia membuang material demi mendapatkan akhirat, padahal saya sendiri berani menjamin bahwa belum tentu ia akan masuk surga.
Zuhud tidak diukur dari jumlah harta yang dimilikinya, tetapi diukur dari sikapnya terhadap harta itu. Dia menguasai harta, tidak dikuasai harta. Banyak orang yang mengatakan “Jihad” dengan artian bunuh diri sambil teriak Allahu Akbar dengan berharap surga dan bidadari menjemputnya setelah mati.
Ini adalah pelecahan daripada kritikan seorang ateis kepada agama saya sendiri. Mereka pikir agama adalah segala galanya hingga mereka mengorbankan nyawanya (material) demi mendapatkan surga dan bidadari (akhirat). Ini adalah pemikiran gila!
Saya kutip beberapa hal tentang sikap zuhud
- Zuhud berarti menjadikan harta sebagai pelayan untuk melayani kita sebagai majikan untuk mencapai akhirat
- Orang zuhud, kesabarannya tidak dikalahkan yang haram dan syukurnya tidak disibukan oleh yang halal
- Zuhud memudahkan jalanmu untuk mencari ilmu
- Pelihara agama dengan dunia yang kamu miliki, itulah keselamatan. Janganlah memelihara dunia dengan mengorbankan agamamu, karena kamu akan celaka
Ketiga, beragama untuk mendapat surga, adalah beragamanya seorang pedagang. Ia menjual ibadahnya kepada Tuhan dan ia pikir Tuhan membelinya untuk ditukar dengan surga. Ini adalah kesalahan cara berfikir orang-orang Islam dan rata-rata ternyata memang hampir semuanya beragama karena surga.
Agama berasal dari kata A=tidak, dan Gama=kacau. Agama artinya tidak kacau, jadi beragama itu untuk mendapat ketenangan bathin, jiwa, dan perasaan damai dalam spritualitas menghadap-Nya. Bisa saya katakan bahwa orang yang kacau, sering merusak, dan mengatasnamakan agama untuk melakukan kekerasan, adalah orang yang tidak beragama
sedangkan orang yang tidak beragama dan tidak percaya Tuhan namun ia tidak kacau, damai, toleran, dan selalu menebarkan kebaikan adalah orang yang beragama sekalipun ia menganggap dirinya tidak beragama.
Janganlah kamu beragama karena ingin masuk surga dan janganlah juga kamu menakut nakuti orang lain yang tidak beragama dengan neraka karena siapa yang kamu pikir akan masuk neraka bisa jadi malah masuk surga.
“Do not force people upon your own interpretations” -Gusdur-
http://ahusm.wordpress.com/